Resensi “99 Cahaya di Langit Eropa”

Gambar

 

Assalamualikum wr.wb..

Apa kabar Civitas Academica?

Wie geht es dier?(Wina)

Comment allez-vous?(Paris)

Como estas?(Cordoba)

Nasılsın?(Istanbul)

Sumber google translet heehee,,

Ada yang spesial, kali ini academic crew menyajikan sebuah resensi buku, mungkin selama ini kita lebih banyak membahas science.Boleh donk anak teknik membahas sastra, apalagi bernuansa islam seperti Novel best seller “99 cahaya di langit Eropa”.Banyak pesan dan sejarah yang terkandung didalamnya, tanpa kita sadari selama ini.

Sebuah novel yang dikarang oleh putri Amien Rais, tau kan? salah seorang politikus ternama negeri ini.Tak disangka, tak dinyana, putri beliau, Hanum Salsabiela Rais dibantu suaminya Rangga Almahendra adalah penulis novel berbakat. .Oke, kita mulai resensi nya.

Penulis mengajak kita berjalan-jalan dulu di Wina, mengunjungi Restoran spesial, karena menjungkirbalikkan konsep ekonomi di dunia. Lalu berjalan-jalan ke Museum Kota Wina untuk bertemu Kara Mustafa Pasha, seorang pemimpin penaklukan Islam Ottoman yang gagal menaklukan kota Wina. Sebuah potret yang mengabadikan warisan pengetahuan, bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Oleh karena itu, penyebaran Islam pun perlu dilakukan secara baik-baik, dengan cinta dan kasih sayang, bukan dengan pedang dan meriam yang berakhir kekalahan

Perjalanan kedua dalam mencari jejak-jejak Islam di Eropa, adalah ke Paris.Ketika pasangan ini bertualang ke Paris, mereka juga bertemu seorang tokoh menarik dan simpatik yaitu Marion Latimer seorang mualaf Prancis. Kota Paris, Pusat peradaban paling maju di dunia. Di Museum Louvre, kita diperkenalkan dengan Kaligrafi Arab Kuno, Pseudo Kufic di sebuah lukisan terkenal, The Virgin and The Child. Sebuah kalimat tauhid bertahta di pinggir hijab Bunda Maria. Penasaran? Makanya yuk baca.Di Paris, ada pemandangan satu garis yang indah. Mulai dari Monumen Obelisk Mesir, Jalan Champs-Elysees dan Monumen Arc de Triomphe semua membentuk garis lurus sempurna. Kalau ditarik garis lurus maka berujung ke kota Mekkah.

Pada bagian ketiga perjalanan, kita menuju Cordoba dan Granada. Di sini ada Mezquita yang terkenal, bangunan Masjid yang berubah fungsi menjadi gereja.Kaligrafi arab masih menghiasi atap, meski penuh ”luka” karena dicongkel dan dihapus jejaknya. Mihrab yang dijeruji menambah kedukaan yang timbul karena menjadi refleksi kejayaan Islam sekaliguskejatuhannya.Di Granada, ada Al-Hambra, sebuah benteng pertahanan yang menorehkan jejak penaklukan Kristen Spanyol yang terus menggusur wilayah Kesultanan Islam. Benteng yang akhirnya menjadi saksi bisu kekalahan Islam lainnya, dengan diserahkannya Granada dari Sultan terakhir ke tangan Isabella dan Ferdinand yang akhirnya membaptis seluruh warga Granada untuk memeluk agama Kristen. Tindakan yang sebenarnya ditentang oleh semua golongan, termasuk Kaum Kristen asli penduduk Granada.

Bagian Empat buku ini adalah perjalanan ke Istanbul, Turki. Negara yang begitu bangga akan dualitas identitasnya. Satu kaki menjejak Eropa, dan Kaki satunya menjejak Asia. Di Istanbul, kita diajak mengunjungi Hagia Sophia, bangunan yang sempat menjadi Gereja, sempat menjadi masjid. Dengan keanggunan kaligrafi Islam raksasa, motif lukisan Yesus dan Bunda Maria, kini bangunan itu diwakafkan untuk menjadi museum demi kepentingan negara. Perjalanan ini Juga mengunjungi keindahan Masjid Biru dan Istana SultanTopkapi.

Buku ini benar-benar mampu menyeret kita kedalam kemasyuran Eropa dari sudut pandang baru , memperkaya akan keindahan Islam di Eropa. Buku ini buku traveling yang juga mengingatkan kita untuk menjadi agen Islam yang baik, yang menyebar damai, keteduhan dan keindahan di komunitas nonmuslim. Apalagi ketika Islam menjadi agama minoritas.

” Islam pernah bersinar sebagai peradaban paling maju di dunia, ketika dakwah bisa bersatu dengan pengetahuan dan kedamaian, bukan dengan teror atau kekerasan.” Hal.8

Buku yang penuh dengan percakapan-percakapan tentang indahnya Islam, keteduhan dan kegigihan orang-orang yang too good to be true but they are really true dalam mendakwahkan Islam yang rahmat bagi seluruh Alam, bukan hanya rahmat bagi orang Islam saja.

Membaca buku ini setidaknya kita dibekali dengan tiga nilai: spiritualitas (agama), intelektualitas (sains), dan wisata sejarah. Diceritakan bagaimana Averroes (Ibnu Rushd) sebagai bapak renaissance eropa berpendapat bahwa kewajiban manusia hidup di dunia adalah untuk berfikir. Penulis berhasil mengaduk-aduk imajinasi, membuat pembacanya membayangkan tentang masa keemasan sekaligus kehancuran peradaban Islam di benua biru lewat pengalamannya menjelajah Eropa.Buku ini sekali lagi mengajarkan kepada kita tentang pentingnya keseimbangan antara iman dan kalam, serta memberikan contoh nyata bagaimana menjadi agen Islam yang ideal.Melalui realitas yang diceritakan dalam buku ini pula, kita tersadarkan bahwa mengalah untuk mendapatkan kemenangan hakiki jauh lebih indah, damai, dan manusiawi daripada mempermasalahkan perbedaan yang fitrah.

Dan akhirnya, buku ini menyadarkan pembacanya tentang pentingnya menjadi muslim yang kreatif, inovatif, dan berdaya guna jauh lebih bernilai daripada muslim yang hanya sholat dan membaca Alquran untuk dirinya sendiri.

Dan, cukup deh,,mending baca sendiri aja novelnya..

Belum punya, makanya beli donk.Mau beli, yang ORI donk.

Belum punya uang, makanya minjem donk.Yaa minjem ke temen yang punya..sebagaimana sebuah pepatah sakral mengatakan.”bapandai-pandailah diak anak teknik mah

Selamat Membaca!

Iklan
Categories: ilmu pengetahuan | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: